VTEM SlideshowVTEM SlideshowVTEM SlideshowVTEM SlideshowVTEM SlideshowVTEM SlideshowVTEM Slideshow
The Scent of Serenity

The Scent of Serenity
"We need to find God But, He cannot be Pound in noise and restlessness".
Theresa of Calcutta

Pada kenyataannya, sebagian dari budaya yang kita hidupi sekarang ini adalah budaya yang mengedepankan kesan dan impresi bukan makna dan esensi. Agar terlihat dan ditengok orang, sesuatu harus kemilau dan gemerlap, Agar terdengar dan mendapatkan perhatian, pikiran harus disuarakan dengan lantang menggelegar. Supaya dipertimbangkan dan mendapatkan pengakuan, sebuah gagasan harus ditampilkan gegap-gempita.

Tak mengherankan, dunia dan budaya kita menjadi dunia dan budaya yang hiruk-pikuk, bising, dan berisik, yang lebih mudah tertarik pada semua yang gemerlap, menggelegar, dan gegap-gempita. Bahkan, tolong tidak terkejut, liturgi ibadah pun tak sanggup untuk sepenuhnya membebaskan diri dari kecenderungan itu, Masyarakat —yakni kita semua— mengalami kesulitan untuk menggapai intisari dan makna karena kita cenderung terpesona dan mudah kesengsem pada tampilan luar alias kemasan. Bahkan, ini yang paling menakutkan, sebagian orang mengira bahwa kemasan (yang gemerlap, gegap-gempita, dan memesona) adalah intisari sesuatu itu.

Memang, ada sesuatu yang hilang atau terlupakan, Kita mungkin lupa bahwa persepsi yang akurat dan pemahaman yang dalam atas realitas hanya diperoleh dalam keheningan dan keteduhan: keheningan dan keteduhan suasana, dan lebih-lebih keheningan serta keteduhan hati. "Only in quiet waters do thing mirror themselves undistorted", demikian ujar Hans Margolius.

Karya-karya besar (apa pun bentuknya) yang terukir sepanjang sejarah kemanusiaan —filsafat, teologi, sastra, lukisan, patung, arsitektur, iptek, komposisi musik, dan banyak lagi— lahir dari dan dalam keheningan serta keteduhan. "Sunyi adalah garba inspirasi", Romo Mangunwijaya menegaskan. Bahkan, tiap kali manusia mencari terang Tuhan atas persoalan yang dihadapinya, terang ilahi itu akan dijumpai daiam keheningan dan keteduhan hati. Kala keheningan dan keteduhan menguasai hati dan batin kita, ketika itulah kita siap untuk menangkap pesan Tuhan atas masalah yang kita hadapi, Bahkan, Tuhan Yesus sendiri pun mencari tempat yang sunyi untuk mendapatkan keheningan dan keteduhan itu. "You can hear the footsteps of God when silence reigns in your mind", demikian Sri Sathya Sai Baba menyimpulkan.

Dalam pikiran demikian itulah, "Scent of Serenity" (semerbak aroma keteduhan) berharap menjadi penanda kecil yang mengingatkan kita untuk tidak tersilaukan oleh budaya gegap-gempita yang bising dan berisik, tetapi ingat untuk meneduhkan hati serta jiuva dalam keheningan agar kita lebih siap mendengarkan suara kebenaran, Seorang bijak menasihatkan, "When all the noise is gone, there is only God".

Surabaya, 31 Juli 2014

Eko Elliarso